Padang,SumbarEkspres.com – Pernyataan Presiden Prabowo dari kunjungan ke Mesir tanggal 19 Desember 2024 yang mengharapkan agar para koruptor bertobat, dan mengembalikan harta kekayaan rakyat yang diambil secara tidak sah, merupakan langkah penting dalam menyambut tahun emas 2024.

 

Sebagaimana kita ketahui bersama konsultan yang berbasis di London Price Waterhouse Cooper sejak tahun 2015 sudah membuat prediksi berdasarkan berbagai pertimbangan bahwa tahun 2045 kekuatan ekonomi dunia akan berubah yakni RRC di urutan pertama, India di urutan kedua, Amerika Serikat di urutan ketiga, dan Indonesia di urutan keempat.

 

Belakangan di Indonesia kita senang menggunakan istilah tahun emas untuk tahun 2045 itu, yakni saat Indonesia merayakan ulah tahun kemerdekaannya yang ke-100.

 

Di zaman orde baru pernah juga diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi Asian Tiger atau Harimau Asia karena kemajuan di bidang ekonomi. Namun ramalan itu tidak terwujud terutama karena krisis ekonomi tahun 1997 dan kejatuhan Presiden Soeharto tahun 1998. Saat itu banyak pakar yang memprediksi bahwa Indonesia sulit kembali untuk berada dalam posisi sebelum krisis itu. Ada yang mengatakan diperlukan setidaknya 50 tahun hanya untuk Kembali kepada keadaan sebelum krisis itu.

 

Namun Indonesia merupakan negara yang unik dan sulit dijelaskan secara ilmiah. Almarhum Dubes Sabam Siagian pernah menjelaskan bahwa berbagai perguruan tinggi di dunia ingin menjelaskan keadaan Indonesia, namun selalu sulit untuk melakukannya.

 

Kini di tahun 2024 dengan Presiden Prabowo Subianto yang memimpin pemerintahan, keadaan ekonomi Indonesia sebenarnya cukup baik. Namun Langkah berani yang ditempuh Presiden Jokowi sebelumnya untuk membangun ibu kota negara baru di Kalimantan merupakan langkah yang menyita banyak perhatian dan anggaran. Walaupun di masa mendatang sejarah akan menunjukkan langkah berani pemindahan ibu kota itu, namun mari kita lihat keadaan perekonomian Indonesia sejenak.

 

Ekspor Indonesia di tahun 2023 mencapai AS$ 256 miliar dan tahun 2024 ini kemungkinan besar bisa melebihi itu karena selama 11 bulan terakhir ekspor Indonesia sudah mencapai AS$ 241,25 miliar.

 

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kemajuan perekonomian suatu negara dipengaruhi oleh tiga hal yakni besarnya ekspor dari negara itu, besarnya investasi asing, dan besarnya jumlah turis asing yang masuk ke negara itu.

 

Di tiga bidang itu Indonesia belum menunjukkan prestasi yang diharapkan. Ekspor Singapura yang berpenduduk sekitar 5 juta jiwa bisa mecapai AS$ 500 miliar dan ekspor RRC dengan penduduk 1,4 miliar bisa mencapai AS$ 2.800 miliar. Presiden Jokowi pernah mengkritik bahwa ekspor Indonesia selalu dilaporkan meningkat namun kenyataannya masih di bawah negara tetangga. Ekonom Univeritas Indonesia Faisal Basri pernah mengatakan bahwa memang kemampuan ekspor Indonesia hanya sebesar itu saja.

 

Di bidang pariwisata, sudah sejak lama Indonesia menargetkan kedatangan turis 20 juta setiap tahunnya. Namun sampai saat ini Indonesia belum pernah mencapai jumlha itu. Malaysia dan Thailand mengakui banyaknya destinasi wisata di Indonesia seperti Bali, Raja Ampat, danau Toba, dll, namun jumlah turis asing yang datang ke Indonesia masih jauh di bawah turis asing yang datang ke Malaysia dan Thailand. Memang fenomena COVID-19 telah memukul pariwisata di seluruh dunia, namun seharusnya Indonesia perlu lebih cerdas lagi dalam memanfaatkan keindahan alamnya untuk memajukan perekonomiannya.

 

Di bidang investasi sering kita mendengar angka fantastis investasi asing di Indonesia. Menteri Investasi Rosan Roasni menyebutkan sepanjang triwulan III Tahun 2024, Kementerian Investasi/BKPM mencatat realisasi investasi sebesar Rp431,48 triliun atau sekitar AS$ 30 miliar saja.

 

Jadi dengan penampilan perekonomian Indonesia di tiga bidang itu, apakah kita perlu cemas menghadapi ramalan konsultan asing bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor empat dunia?

 

Di samping itu sejak tahun 2017 Indonesia sudah masuk dalam klub yang produk domestik brutonya (PDB) sudah di atas AS$1 triliun, dan hanya ada 17 negara di dunia yang masuk dalam kelompok itu. Menurut Bank Dunia tahun 2023 PDB Indonesia sudah mencapai AS$ 1,3 triliun dan Indonesia berada di urutan ke-16 di atas Arab Saudi dengan PDB AS$ 1,1 triliun.

 

Presiden Prabowo dengan seluruh anggota kabinetnya dengan semangat anti korupsinya dan sambil harus menghadapi persoalan berat, akan menjawabnya dalam lima tahun mendatang ini. Sepertinya Prabowo sudah mengumpulkan semua orang pintar di Indonesia untuk mewujudkan harapan tentang Indonesia Emas ini.

 

Jonny Sinaga, Mantan Dubes RI di Buenos Aires, Argentina (2014-2017), sekarang senior fellow di Murdono Law Office dan Dosen di FH UKI. (*)

Bagikan: